ALSA ONLINE LEGAL NEWS-“INCEST’

LATAR BELAKANG

Sebagai manusia kita membutuhkan sandnag, pangan dan papan. Kebutuhan tersebutdiperlukan untuk melengkapi kelangsungan hidup pada umumnya. Namun, dibalik itu semua kita juga memiliki kebutuhan biologis, yang dimaksud biologis disini adalah adanya keinginan seksual antar lawan jenis.

PENGERTIAN

Incest merupakan hubungan seksual yang masih ada hubungan darah (hubungan sedarah), misalnya ibu dengan anak laki-laki kandung, ayah dengan anak perempuan kandung, saudara laki-laki dan perempuan sekandung dan sebaliknya, baik dilakukan secara sukarela ataupun paksaan, ada unsur kekerasan, yang memprihatinkan apabila dilakukan dengan rasa suka sama suka (saling mencintai), sehingga melakukannya layaknya seperti pasangan suami istri.

INCEST DILIHAT DARI SUDUT PANDANG MEDIS

  1. Kelainan resesif autosomal.

Muncul penyakit atau cacat bawaan akibat adanya perkawinan dua gen abnormal

  • Faktor genetik

Di seluruh dunia, terdapat norma universal yang menyebutkan bahwa hubungan seksual dengan kerabat tingkat pertama seperti orang tua, anak dan saudara kandung harus dihindari. Pasalnya, kerabat tingkat pertama ini memiliki kesamaan genetik. Persoalannya adalah ketika genetik yang sama bertemu, akan ada genetik buruk yang jika bersatu akan berlipat ganda. Maka gak heran jika anak dari hasil hubungan incest selalu menderita berbagai penyakit. Selain itu gak ada gen normal yang mampu menetralkannya.

  • Cacat lahir dan gangguan mental

Dampak dari hasil hubungan sedarah tersebut akan bermasalah terhadap perkembangan anak. Sebagai contoh, hampir 42 persen anak hasil hubungan incest di Cekoslovakia berdasarkan sebuah studi mengalami cacat lahir, sementara 11 persennya mengalami gangguan mental.

  • Kelainan fisik bawaan

Sementara itu, kelainan genetik yang dialami oleh anak dari hasil hubungan incest adalah terjadinya polidaktil atau tumbuhnya jari tambahan pada kaki dan tangan anak. Kelainan lain biasanya terjadi kekerdilan pada anak, bibir sumbing, sistem imun melemah hingga down syndrome.

Tidak berhenti sampai disitu, ada banyak risiko lain yang disebabkan oleh perkawinan sedarah yang menyerang anak. Risiko tersebut di antaranya adalah

DASAR HUKUM

  1. Larangan Perkawinan Sedarah dalam Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974

Dalam ketentuan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan dilarang antara dua orang yang:

1) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke atas;

2) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya;

3) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri menantu dan ibu/bapak tiri;

4) Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan;

5) Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang;

6) Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.

  • Incest dilihat dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Bunyi selengkapnya dari Pasal 294 ayat (1) KUHPidana, yang terletak dalam Buku II Bab XIV : Kejahatan terhadap Kesusilaan, menurut terjemahan BPHN, yaitu :

Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak dibawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya  ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.

  • Larangan Perkawinan dalam Pasal 39 Kompilasi Hukum Islam

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita disebabkan :

  1. Karena Pertalian Nasab
  2. Dengan seorang wanita yang melahirkan atau yang menurunkannya atau keturunannya;
  3. Dengan seorang wanita keturunan ayah atau ibu;
  4. Dengan seorang wanita saudara yang melahirkannya.
  5. Karena Pertalian Keluarga Semenda
  6. Dengan seorang wanita yang mealhirkan isterinya atau bekas isterinya;
  7. Dengan seorang wanita bekas isteri orang yang menurunkannya;
  8. Dengan seorang wanita keturunan isteri atau bekas isterinya, kecuali putusnya hubungan perkawinan dengan bekas isterinya itu qobla al dukhul;
  9. Dengan seorang wanita bekas isterinya.
  10. Karena Pertalian Sesusuan
  11. Dengan wanita yang menyusui dan seterusnya menurut garis lurus keatas;
  12. Dengan seorang wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis lurus ke bawah;
  13. Dengan seorang wanita saudara sesusuan dan kemenakan sesusuan ke bawah;
  14. Dengan seorang wanita bibi sesusuan dan nenek bibi sesusuan ke atas;
  15. Dengan anak yang disusui oleh isterinya dan keturunannya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Abdurrahman, 2004. Kompilasi Hukum Islam cet.4. Jakarta : Akademika Pressindo.

Kartono, Kartini. 1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalis Seksual. Jakarta : Mandar

Maju

Undang-Undang :

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Sumber Lainnya :

Firganefi .2008. Kebijakan Kriminal terhadap Tindak Pidana Incest. 2(2).

https://jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/fiat/article/view/89/97

Handayani, Sri (2019, 2 Juli). 6 Risiko Kesehatan Sedarah yang Patut Diwaspadai.

Dikutip 21 September 2019 dari Tribunnews: https://palu.tribunnews.com

Labola, Yostan Absalom (2018, 1 Maret). Dampak Incest Dilihat dari Linear Umur Manusia dan Penjelasan Sains. Dikutip 21 September 2019 dari Kompasiana


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *