ALSA ONLINE LEGAL NEWS MARET –“FENOMENA HOAX”

FENOMENA HOAX

LATAR BELAKANG
Sebagaimana kita pahami bersama bahwa kita hidup di era modern dimana penggunaan media komunikasi dan media sosial menjadi sangat marak dilingkungan sosial kita. Setiap orang dapat mengakses informasi dan dapat menyampaikannya ke seluruh dunia dengan menggunakan media komunikasi dan media sosial tersebut. Tua, muda, laki-laki, perempuan, didesa maupun dikota dapat mengakses informasi dari media tersebut.
Kemudahan akses informasi tersebut nampaknya memiliki suatu sisi kelam dibalik sisi positifnya. Sisi kelam tersebut timbul dan lahir dari suatu kondisi dimana adanya suatu kebencian atau suatu dendam dari sekelompok orang terhadap kelompok yang lain atau dari individu ke individu yang lain. Dari rasa kebencian dan dendam yang buruk tersebut media komunikasi dan media sosial ini disalahgunakan untuk menyerang orang atau kelompok yang tidak disukainya dengan cara menyebarkan suatu berita palsu atau pada saat ini sering kita kenal dengan istilah HOAX.

DEFINISI HOAX
Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Singkatnya Hoax adalah kabar, informasi, atau berita palsu atau bohong yang dapat berdampak negatif bagi para pembaca. Hoax bertujuan membuat opini publik, menggiring opini, membentuk persepsi, juga untuk menguji kecerdasan dan kecermatan pengguna internet dan media sosial. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya.

ASAL USUL PENGGUNAAN KATA HOAX
Istilah Hoax atau berita bohong ini sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Istilah Hoax diperkirakan pertama kali muncul sekitar tahun 1808, dan merupakan istilah dalam bahasa inggris. hal ini tertulis dalam buku yang berjudul Sins Against Science karya Linda Walsh.
Kata Hoax juga diyakini berasal dari kata-kata mantra para penyihir pada jaman dulu, yaitu “Hocus Pocus” yang berasal dari bahasa latin, yakni “Hoc est corpus”, yang digunakan para penyihir untuk memperdaya orang lain dengan kata-kata mereka yang ternyata bohong.
Penjelasan mengenai Hoax yang berarti suatu penipuan, juga dapat ditemukan dalam sebuah buku tahun 1965, yang berjudul Candle in the dark karya Thomas ady.
Penggunaan kata Hoax mulai populer, sekitar tahun 2006. Yang didapat dari sebuah film berjudul Hoax, yang dibintangi oleh Richard Gere dan disutradarai oleh Lasse Halstorm.
Film Hoax ini sebenarnya diambil dari sebuah Novel hasil karya Clifford Irving yang juga berjudul Hoax, namun karena isi dari Film Hoax tersebut banyak melenceng dari Novel karyanya, Clifford Irving akhirnya mengundurkan diri dari pembuatan film Hoax tersebut.
Sejak saat itu, Film Hoax ini dikenal sebagai suatu Film yang banyak berisikan tentang kebohongan-kebohongan, dan banyak orang yang menggunakan istilah Hoax untuk menggambarkan suatu berita bohong.
Berita Hoax yang awalnya digunakan sebagian orang untuk sekedar lelucon, kini menjadi semakin meresahkan. Berbagai pemberitaan bohong atau berita Hoax menyebar luas, dan kini menyebabkan berbagai hal negatif dan mulai meresahkan banyak kalangan.
Oleh karena itu, diharapkan agar kita tidak dengan mudah menerima segala pemberitaan, apalagi suatu berita yang berisi tentang hal yang kurang masuk akal dan tidak jelas sumber beritanya.

SANKSI PIDANA HOAX
Atas dasar tersebut dibuat lah suatu aturan hukum yang mengatur terkait adanya fenomena HOAX tersebut. Aturan hukum tersebut adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi, dan Transaksi Elektronik. Undang-Undang ini sebenarnya merupakan perubahan dari Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008. Pada undang-undang ini memiliki ketentuan pidana yang cukup ketat. Dalam hal mengingat seiring dengan maraknya permasalahan yang terkait media komunikasi dan media sosial, hukum pidana sebagai ultimum remidium dan sebagai suatu instrumen hukum untuk mengkontrol masyarakat dengan cara memberi ancaman dan efek jera dianggap perlu dan layak untuk dibuat. Pasal pasal yang memuat ketentuan pidana tersebut adalah sebagai berikut:
Pasal 45A
(1) Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Sumber :
• https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pemberitaan_palsu
• Jurnal Hukum tentang “PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN BERITA PALSU (HOAX) MENURUT UNDANG-UNDANG NO.11 TAHUN 2008
YANG TELAH DIRUBAH MENJADI UNDANG-UNDANG NO.19 TAHUN 2016 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK” Oleh Nur Aisyah Siddiq,
Universitas Sam Ratulangi
• Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
• https://kominfo.go.id/content/detail/8863/penebar-hoax-bisa-dijerat-segudang-pasal/0/sorotan_media
• https://www.viva.co.id/digital/digilife/850193-deretan-pasal-dan-ancaman-pidana-bagi-penyebar-hoax

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *